TAHAP WAWANCARA: MENGGALI KEPRIBADIAN CALON PENGAJAR
Senin 4 November 2019

Penulis: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Tim Visdes GUIM 9

Dipublikasikan pada 10 November 2019

Depok – Seleksi pengajar GUIM telah memasuki tahap keempat, yaitu wawancara calon pengajar. Wawancara calon pengajar dilaksanakan selama tiga hari mulai dari tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2019. Pada tanggal 31 Oktober dan 1 November, wawancara dilaksanakan di Lantai 2 Kantin FMIPA UI, sedangkan pada tanggal 2 November di gedung E FISIP UI.

Secara keseluruhan, terdapat 59 calon pengajar yang mengikuti seleksi tahap keempat ini. Sebanyak 16 calon pengajar diwawancarai pada hari pertama dan kedua, sedangkan 27 orang sisanya diwawancarai pada hari ketiga.

Setiap calon pengajar akan diwawancarai selama 60 menit oleh seorang assessor dan seorang panitia GUIM. Nantinya, assessor dan panitia GUIM akan berkolaborasi untuk menanyakan berbagai hal kepada calon pengajar. Assessor sendiri merupakan orang-orang yang sebelumnya sudah pernah mengikuti kegiatan GUIM dan biasa disebut Alumni GUIM.

Saat wawancara, para calon pengajar akan diminta untuk menceritakan pengalaman dan ditanyai mengenai latar belakang mereka sebelumnya. Jawaban mereka kemudian akan dicatat dan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan calon pengajar yang lolos ke tahap selanjutnya.

“Tujuannya adalah untuk melakukan pengecekan ulang,” ujar Ika Noviana Suci, anggota tim Educational Development GUIM yang juga penanggung jawab kegiatan wawancara calon pengajar. Pengecekan yang dimaksud berupa membandingkan jawaban calon pengajar dengan data diri yang mereka kumpulkan pada saat seleksi tahap pertama.

Kriteria yang dinilai dari calon pengajar akan berbeda-beda pada setiap tahap seleksi. Pada tahap wawancara calon pengajar, terdapat lima kriteria yang ingin digali lebih dalam oleh panitia. “Pengetahuan mengenai GUIM, bagaimana mereka menyesuaikan diri, manajemen emosi dan stress, tanggung jawab, dan motivasi dan keaktifan,” ucap Suci, Kamis (31/10/2019).

Dari 59 calon pengajar yang mengikuti seleksi tahap keempat, akan diseleksi menjadi 40 calon pengajar untuk mengikuti tahap selanjutnya. Tahap selanjutnya merupakan pelatihan pengajar yang akan dilaksanakan pada tanggal 9-10 November 2019 di Wisma Lampung, Badan Penghubung Provinsi Lampung, Jakarta Barat.

SIMULASI MENGAJAR: GUIM MENCARI PENGAJAR KREATIF DAN INOVATIF
Sabtu 19 dan 26 Oktober 2019

Penulis: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Tim Visdes GUIM 9

Dipublikasikan pada 01 November 2019

Sebanyak 96 calon pengajar Gerakan Universitas Indonesia Mengajar (GUIM) mengikuti seleksi pengajar tahap ketiga, yaitu simulasi mengajar di sekolah dasar. Simulasi mengajar dilaksanakan pada tanggal 19 dan 26 Oktober 2019 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Beji Timur 2, Depok. SDN Beji Timur 2 terdiri dari 18 rombongan belajar di mana terdapat tiga rombongan belajar untuk setiap kelasnya. Dalam satu hari, sebanyak 48 pengajar ditempatkan di kelasnya masing-masing dan menunjukkan kemampuannya dalam menyampaikan materi di kegiatan belajar mengajar.

Pada saat simulasi mengajar, setiap calon pengajar diberikan waktu sebanyak 20 menit untuk menyampaikan materi dengan mata pelajaran Tematik. Sebelum memberikan materi, calon pengajar telah diberikan contoh Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan buku rujukan. Mereka diminta untuk menyampaikan materi dengan cara dan media pembelajaran yang telah disiapkan masing-masing.

Dalam satu kelas, seorang pengajar ditemani oleh seorang panitia GUIM, assessor dari komunitas Sayap Dewantara (Sadewa), dan wali kelas di kelas tersebut. Pantia GUIM bertugas sebagai liaison officer dan time keeper di ruangan tersebut. Penilaian simulasi mengajar dilakukan oleh assessor, sedangkan wali kelas memberikan penilaian secara deskriptif. Melalui simulasi mengajar ini, GUIM mencari calon pengajar yang memiliki sikap sopan dalam tutur bicara dan berpakaian, mampu menguasai materi yang akan disampaikan, serta kemampuan manajemen kelas dan skill mengajar yang baik.

Setiap calon pengajar dituntut untuk bisa kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi di kelas melalui berbagai media pembelajaran. Permasalahan utama saat simulasi mengajar adalah beberapa calon pengajar belum bisa menggunakan bahasa yang dapat dimengerti anak-anak. Mendapatkan perhatian dari anak-anak di dalam kelas juga menjadi tantangan sendiri bagi para calon pengajar. Banyaknya jumlah anak dalam satu kelas dan sifatnya yang beragam membuat calon pengajar harus bisa bersabar dan membaca situasi di dalam kelas.

Kegiatan simulasi mengajar diakhiri dengan pertemuan antara panitia dengan guru-guru di sekolah tersebut. Pertemuan tersebut diisi dengan sambutan dari ketua pelaksana GUIM angkatan 9, sambutan dari Kepala Sekolah SDN 2 Beji Timur, dan penyerahan plakat dan bingkisan dari panitia kepada pihak sekolah.

“Ambil sisi terbaiknya saja, jangan diambil yang kurang baik,” ucap Engkoy Rukoyah, Kepala Sekolah SDN 2 Beji Timur. Sebagai kegiatan pengabdian masyarakat, Engkoy berpesan agar GUIM memberikan hal-hal baik kepada murid dan masyarakat. Engkoy juga memberikan semangat kepada panitia GUIM dan berharap agar para mahasiswa dapat menjadi generasi bangsa yang lebih baik lagi. Karena para mahasiswa yang nantinya akan menggantikan peran generasi sebelumnya dalam memajukan Indonesia.

Sebanyak 96 calon pengajar GUIM yang mengikuti simulasi mengajar nantinya akan diseleksi menjadi 59 orang untuk mengikuti tahap selanjutnya. Seleksi tahap keempat merupakan wawancara calon pengajar yang akan diadakan di lingkungan Universitas Indonesia. Wawancara calon pengajar akan berlangsung pada tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2019.

CATATAN HARIAN TIM SURVEY 2: ADVANCE BUAT MAU NANGIS!
Cerita Perjalanan Survey Kedua GUIM 9
26-30 Agustus 2019

Penulis: Imazniar Majid

Editor: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Tim Visdes GUIM 9

Dipublikasikan pada 26 Oktober 2019

Sebenarnya aku hobi banget pergi-pergian, aku paling malas gabut karena bakalan menghabiskan waktuku untuk tidur. ”Bosan banget nggak sih kalau gabut?”, pikirku. Jadi begini sahabatku, bulan Agustus kemarin, tepatnya tanggal 20 Agustus, aku diberi kesempatan untuk ikut menjadi Tim Advance Survei GUIM (Gerakan Universitas Indonesia Mengajar) bersama lima orang yang tentunya sangat keren bangetlah, ya. Sebut saja Bima, Ayu, …., nggak deng itu kan nama anggota cerita KKN Desa Penari, mereka adalah Camar, Atul, Agiel, dan Diko. Jadi kita berlima berangkat survei ke titik GUIM  yang sekarang dan itu berada di tanah Sumatra loh sahabat, tepatnya di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pesisir Barat adalah sebuah kabupaten baru di Provinsi Lampung yang awalnya adalah bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten Pesisir Barat adalah salah satu daerah tertinggal dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di Lampung. Sebelumnya, di bulan Juni saya dan Tim Survei 1 pernah ke Pesisir Barat untuk mencari data-data sekolah di sana. Namun kami rasa, data tersebut  masih kurang karena hanya mengambil beberapa kecamatan yaitu Pesisir Selatan, Pesisir Tengah, dan Way Krui. Oleh karena itu, GUIM ingin sekali membentangkan sayap yang lebih lebar lagi nih sahabat dengan mengadakan survei 2, agar GUIM bisa menanamkan inspirasi dan mewujudkan asa di semua daerah yang ada di Pesisir Barat.

Aku ingin cerita sedikit tentang bentang alam yang ada di Pesisir Barat. Dari survey 1 aku sudah jatuh cinta banget sama bentang alamnya, sungguh asri banget perpaduan pantai, gunung, kebun, dan sawah menyatu jadi satu. ”Keren banget nggak sih?”, ujarku dalam hati, dan kalau kata orang sih “Pesisir Barat itu sering dibilang Bali kedua gitu loh“. Penasaran kan? Yuk, ke Pesisir Barat, hehe.

Oh okeee, intronya terlalu panjang, ya?

Perjalanan baru dimulai, hari pertama Tim Advance mengunjungi kecamatan yang paling utara, yaitu Kecamatan Lemong, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBB) dan lumayan dekat juga dengan provinsi Bengkulu. Jalannya itu loh sungguh menantang sekali, kalau kata Agiel sih, “Jalannya kayak roller coaster, ya”. Tapi di sepanjang jalan, jalanannya sangat bagus loh, pemandangannya juga, di kiri bisa lihat pantai sedangkan di kanan bisa lihat gunung. “Perfect banget sih!”, ujarku. Di jalan kami bisa melihat pulau yang ada di Pesisir Barat, nama pulaunya adalah Pulau Pisang, katanya sih kalau ke Pulau Pisang pagi hari kita bisa lihat lumba-lumba loh kalau beruntung.

Di Kecamatan Lemong kami  ditunggu oleh K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) di Kecamatan Lemong, yang bakalan menemani Tim Advance untuk berkunjung ke sekolah-sekolah yang ada di Lemong. Sesampainya di Lemong, kami menentukan sekolah mana saja yang bakalan dikunjungi pertama dan akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi sekolah yang berinisial sekolah x dan kebetulan kepala sekolahnya adalah Ketua K3S-nya sendiri. “Enak banget nggak sih”, pikirku. Jujur saja kalau di perjalanan ini aku hanya melihat sedikit sekali sekolah-sekolah atau pemukiman, “Emang ada ya sekolah disini?” tanyaku. Akhirnya Bapak Ozi, Ketua K3S Lemong, menunjukkan jalan ke sekolah pertama yang bakalan kami kunjungi dan ternyata jalan ke sekolah tersebut masuk ke dalam gitu. Awalnya kami melewati jalan cukup bagus terus melewati jalan kecil bahkan jembatan kayu, melewati jalan berbatu, dan melewati jalan setapak. Aku pun mulai bertanya, “Emang di sini ada ya sekolah dan pemukiman? Perasaan disini isinya hutan-hutan aja dah”.

Setelah 20 menit perjalanan ternyata belum sampai juga, “Berasa lama banget sih”, ujarku. Pada akhirnya kami sampai di sekolah x, SD pertama yang kami kunjungi. Sesampai disana kami disambut hangat oleh guru-guru dan pada saat itu kami pun bertanya “Bu, Pak, siswa disini rumahnya dimana, ya? Setahuku di sekitar sini tidak ada pemukiman”. Ibu guru menjawab, “Iya, disini anak-anaknya berasal dari dusun yang ada di atas sekolah, sekitar 2 km dari sekolah, anak-anak berjalan kaki bareng-bareng untuk berangkat ke sekolah walaupun ada juga sih yang diantar oleh orang tua”. Saya pun menjawab, “Jauh juga ya, Bu”, 2 km jalan kaki bahkan lebih itu jauh banget sih menurut Aku.

Setelah berbincang dengan guru, kami pun melakukan observasi di sekitar lingkungan sekolah, ternyata sekolah x sangat kekurangan baik secara fisik maupun proses pembelajaran. Tembok terbuat dari kayu, buku pelajaran kurang, dan perpustakaan seadanya. Hmmm, sungguh semuanya serba “keterbatasan” namun dengan segala keterbatasan yang ada di sana anak-anak memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar. Aku pun menyeletuk sambil tersenyum, “Gw kira sekolah dengan dinding kayu itu cuman ada di Film Laskar Pelangi, ternyata di sini juga ada”. Matahari pun hari ini sangat cerah diiringi elang yang terbang di atas sekolah.

Lagi-lagi aku harus belajar dari semangat anak-anak untuk menuntut ilmu walaupun harus berjalan berkilo-kilo meter, namun tidak menurunkan semangat mereka untuk belajar. Dan yang paling penting adalah bagaimana cara kita bersyukur atas kemudahan yang selama ini Tuhan berikan kepada kita dan bagaimana cara kita untuk membayar rasa syukur itu kepada-Nya. Aku rasa dengan menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama cukup melambangkan rasa syukur kita terhadap Tuhan, nggak usah jauh-jauh untuk menjadi orang yang menginspirasi, cukup di Gerakan UI Mengajar saja.

Aku yakin setiap perjalanan punya warna masing-masing dan yang paling penting adalah pelajaran yang sangat berharga yang tidak bisa didapatkan dari mana pun!

GUIM Mencari Pengajar Berkualitas Melalui Group Discussion
Sabtu, 12 Oktober 2019

Penulis: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Tim Visdes GUIM 9

Dipublikasikan pada 16 Oktober 2019

Depok – Setelah melalui seleksi data diri dan esai, 144 dari 601 calon pengajar Gerakan Univesitas Indonesia Mengajar (GUIM) yang lolos seleksi akan mengikuti seleksi tahap kedua. Seleksi tahap kedua adalah Leaderless Group Discussion (LGD) di mana setiap calon pengajar berdiskusi dalam sebuah kelompok mengenai permasalahan yang merepresentasikan kondisi nyata di titik aksi. Salah satu masalah yang dibahas adalah banyaknya murid-murid kelas 4, 5, dan 6 yang masih belum bisa membaca.

LGD dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 5 dan 12 Oktober 2019 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Dalam satu hari, terdapat dua sesi dengan enam kelompok LGD untuk masing-masing sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada pukul 08.30-09.30, sedangkan sesi kedua pada pukul 10.00-11.00. Setiap kelompok LGD terdiri dari enam calon pengajar yang ditemani oleh dua orang assessor dan satu orang Fasilitator. Assessor bertugas untuk menilai keaktifan dan kemampuan calon pengajar dalam menyelesaikan permasalahan. Adapun Fasilitator bertugas untuk mengingatkan waktu yang tersisa pada saat diskusi berlangsung.

“Di LGD tidak ada moderator dan diskusi diserahkan kepada peserta,” ujar Widiya Solihat Eka Riani, salah satu anggota tim Educational Development GUIM, Sabtu (12/10/2019). Berbeda dengan group discussion pada umumnya yang diarahkan pada suatu kesimpulan utama, tidak ada kesimpulan utama yang disiapkan oleh panitia dalam LGD. Kesimpulan dari diskusi diserahkan kepada calon pengajar dan dapat berbeda-beda untuk setiap kelompok LGD.

“Adaptif, manajemen emosi yang positif, dan bertanggung jawab,” ucap Widiya ketika ditanya mengenai kriteria pengajar yang diharapkan dari seleksi LGD. Dari 144 calon pengajar akan diseleksi lagi menjadi sekitar 90 orang yang akan mengikuti seleksi tahap ketiga.

Dari seluruh pendaftar pengajar GUIM, akan dipilih 36 pengajar terbaik yang akan terjun langsung ke lokasi kegiatan selama 25 hari di bulan Januari. Nantinya, para pengajar akan mengajar bersama dengan guru-guru di lokasi kegiatan sambil menerapkan metode belajar yang menyenangkan dan berbagi inspirasi kepada murid. GUIM sendiri merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Departemen Sosial dan Masyarakat BEM UI dan berfokus pada bidang pendidikan dasar di daerah terluar dan terpelosok.

MEMULAI LEMBARAN YANG KESEMBILAN
Grand Opening GUIM 9
Rabu, 12 September 2019

Penulis: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Tim Visdes GUIM 9

Dipublikasikan pada 14 September 2019

Lembaran demi lembaran semakin penuh dengan cerita-cerita inspiratif yang ditulis oleh anak-anak terbaik bangsa. Hingga akhi2nya tumpukan lembaran itu menjadi sebuah buku yang layak untuk dijaga dan diceritakan kepada orang-orang dalam rangka meningkatkan atensi dan kesadaran terhadap permasalahan sosial di sekitar, khususnya di bidang pendidikan. Sebuah buku dengan tujuan dan mimpi besar yang terkadung di dalamnya, yaitu menjadikan setiap anak Indonesia mendapat pendidikan dasar yang layak dan berkualitas tanpa adanya ketimpangan antara satu dan yang lainnya. Namun saat ini buku itu belum juga rampung, tujuan dan mimpi masih belum juga terealisasi. Hari ini, izinkanlah kami untuk memulai menulis lembaran yang kesembilan guna mewujudkan tujuan dan mimpi itu.

Dalam rangka memulai lembaran yang baru, GUIM 9 mengadakan kegiatan Grand Opening (GO) GUIM 9 untuk memperkenalkan GUIM ke masyarakat luas sekaligus secara resmi memulai rangkaian kegiatan dan membuka pendaftaran pengajar. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 11 September 2019 pukul 13.30 WIB di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI. Kegiatan dibuka dengan pemberian sambutan oleh Asa Sakina Tsalia selaku Project Officer GUIM 9, Camar Maulana selaku Kepala Departemen Sosial dan Masyarakat BEM UI, Manik Marganamahendra selaku Ketua BEM UI, dan Pak Arman Nefi selaku Direktur Kemahasiswaan UI. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, Pak Arman memberikan bingkisan atau token untuk para pembicara talkshow, yaitu Mbak Najelaa Shihab atau Mbak Elaa, seorang aktivis pendidikan dan pendiri sekolah cikal; Pak Dani Akhyar, Kepala Divisi Pengembangan Masyarakat Smartfren; dan Ahmad Husein Alkaff atau Kak Ucheng, alumni GUIM dan asisten peneliti di Departemen Kimia FMIPA UI.

Di hari ulang tahunnya, Mbak Elaa masih menyempatkan hadir untuk bertemu dan menebarkan inspirasi kepada para peserta yang hadir. Mbak Elaa percaya bahwa perubahan pendidikan di Indonesia tidak akan diiniasi oleh pemerintah, peran pemerintah sangatlah sedikit dalam menciptakan inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan. Masyarakat adalah pihak yang harus berpikir lebih keras untuk menciptakan solusi dan inovasi guna menyelesaikan permasalahan di sekitarnya, termasuk permasalahan pendidikan. “Dunia pendidikan masih kekurangan inovator, pikirkan contoh inovasi yang akan ditunjukkan (kepada murid-murid). Bawa semua yang ada di luar tembok kelas ke dalam kelas dengan cara-cara inovatif,” pesan Mbak Elaa kepada calon pengajar GUIM.

Spirit of volunteerism masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan, zaman sekarang lebih cenderung materialisme,” ujar Pak Dani dalam mengapresiasi gerakan-gerakan kerelawanan, seperti GUIM. Partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan secara sukarela merupakan salah satu bentuk gotong royong dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di Indonesia. Pak Dani secara tegas menekankan bahwa swasta siap membantu dan mendukung gerakan-gerakan sosial seperti GUIM sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Indonesia. Lulusan program magister ilmu komunikasi UI itu memperkenalkan slogan ‘Beda Bisa Bersama’ dengan harapan seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka ragam pilihan politik, suku, agama, dan budaya dapat bergerak bersama-sama dan gotong royong membantu satu sama lain.

Materi ketiga talkshow dibawakan oleh Kak Ucheng yang menceritakan pengalaman inspiratifnya selama menjadi pengajar murid kelas 6 di salah satu desa di utara Indramayu. Kak Ucheng menegaskan bahwa anak-anak harus diajarkan tiga kata ajaib yang harus selalu diterapkan dalam kehidupan, yaitu ‘terima kasih’, ‘tolong’, dan ‘maaf’. Sesi talkshow dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan moderator, yaitu Shierlen Octavia yang merupakan Mahasiswa Berprestasi FPsi UI tahun 2018, dan sesi tanya jawab dengan peserta kegiatan.

Setelah sesi talkshow selesai dilanjutkan dengan penampilan dari anak-anak Sekolah Master Depok berupa permainan alat musik yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar. Mereka membawakan dua buah lagu daerah, yaitu lagu Gundul-gundul Pacul dan lagu Ondel-ondel. Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi mengenai wilayah aksi GUIM 9 oleh Divisi Research Center dan alur pendaftaran pengajar oleh Divisi Education Development. GO GUIM 9 ditutup dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Ketua Departemen Sosial dan Masyarakat yang mewakili Ketua BEM UI sebagai peresmian dimulainya rangkaian kegiatan GUIM 9. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan seluruh pihak dapat bersatu saling bahu membahu dalam melakukan aksi nyata mewujudkan kepeduliannya terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya daerah terpelosok.

PASUKAN GUIMO DI PESISIR BARAT!
Cerita Perjalanan Survey Pertama GUIM 9
22-30 Juni 2019

Penulis: Mizzart Al-Fatih

Editor: Farid Lisniawan Muzakki

Dokumentasi: Mizzart Al-Fatih

Dipublikasikan pada 12 Agustus 2019

Selat Sunda masih gelap ketika Kapal Feri yang membawa kawanan tim survei melaju membelah lautan. Sekeliling hanyalah kolam air asin raksasa beserta kerlip titik lampu di kejauhan. Pelabuhan Bakauheni tampak menyambut nun di seberang. Untuk generasi sebelum dan sesudahnya, melalui serangkaian proses yang mendewasakan, perjalanan Gerakan UI Mengajar (GUIM) tahun ini menyentuh Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Malam itu, Pasukan GUIMO secara resmi telah memijak tanah Sumatra. Bus yang turun melalui pintu keluar kapal melanjutkan perjalanan, membawa Pasukan GUIMO menyentuh wilayah paling barat dari Provinsi Lampung.

Perjalanan Pasukan GUIMO dari Terminal Kampung Rambutan menuju Kabupaten Pesisir Barat menghabiskan ± 17 jam perjalanan. Angka ini dapat saja berkurang atau bertambah. Namun, tak elok rasanya mengeluh terhadap lamanya durasi duduk di dalam bus karena ini adalah Kabupaten Pesisir Barat, pelosok paling barat dari Provinsi Lampung dengan wilayah yang luas tak terkira–dan bahkan belum semuanya terjamah. Begini, kawanku yang budiman, sebagai perbandingan saja bahwa DKI Jakarta memiliki luas 661,5 km² sementara Kabupaten Pesisir Barat memanjang melintasi pesisir pantai dengan luas 2.907 km². Kabupaten ini bahkan lebih luas dibanding sebuah negara bernama Singapura!

Mengetahui betapa luasnya daerah titik aksi, begitulah seharusnya Pasukan GUIMO meminta bantuan kepada pemerintah daerah setempat untuk mengetahui sekolah-sekolah mana saja yang sekiranya tepat dijadikan titik aksi. Namun, mohon maafkanlah karena titik aksi GUIM yang terbatas pada enam lokasi. Tentu terdapat banyak sekali sekolah yang sekiranya perlu untuk dibantu, tetapi semoga dapat dimaksimalkan ketika aksi nanti.

Satu minggu adalah durasi waktu yang digunakan Pasukan GUIMO untuk melakukan pencarian terhadap sekolah-sekolah, tentu durasi waktu itu termasuk ± 17 jam perjalanan. Bersentuhan langsung dengan keadaan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Pesisir Barat, menyadarkan Pasukan GUIMO bahwa kualitas pendidikan yang belum merata dalam narasi, berubah menjadi realitas di pelupuk mata. Realitas itu terlihat nyata, serupa nila setitik pada susu sebelanga.

Survei pertama mendapat temuan-temuan menarik perihal dunia pendidikan dasar di pelosok negeri. Perihal anak-anak yang mungkin tak pernah paham dengan tiap-tiap bahaya yang muncul, ketika langkah demi langkahnya tercipta selagi mereka berjalan melewati jembatan gantung untuk bersekolah. Mungkin memang hanya dengan bersekolah dan berilmu, sehingga manusia-manusia mungil itu mampu menambal garis nasib yang akan membawa mereka menjadi manusia dengan intelektualitas mulia.

Hempasan ombak merangkak naik akibat tabrakan tak terhindarkan dengan karang yang kokoh, begitulah pemandaingan sepanjang perjalanan meuju utara kabupaten. Di poros berbeda, tim survey menembus jalan-jalan berupa kerikil melewati sawit-sawit kokoh di selatan kabupaten. Parit-parti kecil nan bening kadang menjadi tempat untuk beristirahat.

Ada asa yang perlu diwujudkan, serta inspirasi yang berusaha ditanam. Demikianlah survey pertama ini dijalankan sebagai persingunggan pertama GUIM 9 dengan titik aksi. Di perjalanan pulang kembali, diam-diam tepuk salut dipersembahkan untuk anak-anak itu. 

MEMPERKAYA WAWASAN PEMASARAN:
Sekolah Divisi Gerakan UI Mengajar Angkatan 9
Senin, 1 Juli 2019

Penulis: Marty Siadari

Editor: M Rizky Akbar

Dokumentasi: Ginna Amora

Dipublikasikan pada 9 Juli 2019

Depok – Senin, 1 Juli 2019 menjadi hari diadakannya Sekolah Divisi untuk divisi Entrepreneurship and Financial Support (EFS) yang diadakan oleh Gerakan UI Mengajar. Sekolah Divisi EFS dilaksanakan di Ruang BEM Universitas Indonesia, Gedung Pusgiwa UI, Depok. Sekolah Divisi ini bertujuan memperluas pengetahuan dan menambah keterampilan divisi EFS dalam melakukan tugasnya yang berhubungan dengan pihak-pihak di luar kepanitiaan Gerakan UI Mengajar seperti perusahaan dan stakeholder-nya.

Sekolah Divisi ini diisi oleh bapak Erwin Panigoro, seorang ahli di bidang pemasaran dan periklanan serta merupakan salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Beliau membawakan materi mengenai persuasion communication, yaitu bagaimana persuasi seharusnya dilakukan serta hal apa saja yang harus dipertimbangkan dalam menghubungi perusahan, bagaimana masyarakat akan menentukan pilihan yang bergantung dengan keadaan sosial, psikologi, individual dan kultural masyarakat itu sendiri. Dalam sesi ini juga, beliau memberikan contoh target perusahaan atau lembaga yang ideal untuk diajak bekerjasama dengan Gerakan UI Mengajar nantinya. Berbagai tips penting seperti bagaimana membuat proposal yang menarik bagi perusahaan juga tak lupa beliau berikan.

Setelah materi selesai diberikan dan istirahat berlalu, divisi EFS diberikan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai solusi dari masalah-masalah nyata yang dihadapi selama berhubungan dengan pihak perusahaan maupun masyarakat. Dalam sesi ini, suasana lebih cair dan interaktif. Pak Erwin juga memberikan feedback untuk kegiatan Gerakan UI Mengajar selanjutnya. Setelah sesi konsultasi ini selesai, Sekolah Divisi EFS pun berakhir dengan kegiatan foto bersama seluruh anggota EFS dan panitia Gerakan UI Mengajar yang hadir sebagai penutup kegiatan.

GERAKAN UI MENGAJAR ANGKATAN 9 PRESS RELEASE:
Audiensi dengan Bupati Pesisir Barat
Senin, 24 Juni 2019

Penulis: Farid Lisniawan

Editor: M Rizky Akbar

Dokumentasi: Iqbal Firmansyah

Dipublikasikan pada 30 Juni 2019

Depok – Pada tahun ini, Gerakan Universitas Indonesia Mengajar (GUIM) Angkatan 9 akan melakukan kegiatan aksi selama 25 hari di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Sebelum melakukan kegiatan aksi, terdapat beberapa kegiatan pra-aksi yang akan dilakukan, salah satunya adalah survei. Pada hari Sabtu, 23 Juni 2019 GUIM memberangkatkan tim survei untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam merancang kegiatan aksi nanti.

Pada hari senin, 24 Juni 2019 pukul 08.00 waktu setempat, Pasukan Guimo (sebutan untuk panitia GUIM, red.) mengunjungi Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat. Kedatangan Pasukan Guimo disambut dengan baik dan ramah oleh pegawai dinas pendidikan. Pada kesempatan itu, Pasukan Guimo membuka diskusi mengenai permintaan rekomendasi sekolah dasar yang akan dikunjungi pada hari selanjutnya. Pihak dinas pendidikan merekomendasikan 12 nama sekolah dasar yang telah ditentukan sekaligus menyiapkan sebuah forum audiensi bersama Bupati Pesisir Barat pada pukul 14.00 waktu setempat. Selain Bupati Pesisir Barat, audeinsi tersebut dihadiri oleh berbagai pihak terkait lainnya seperti Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat, Camat beberapa kecamatan yang menjadi target titik/lokasi kegiatan aksi, Ketua K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), serta pegawai Pemerintah Daerah. Audiensi dilaksanakan di ruang Batu Gukhi Sekretariat Daerah Kabupaten Pesisir Barat dan diliput langsung oleh beberapa media lokal dan nasional seperti detik.in, warta9.com, sumaterapost, inilampung, radarlampung, dan media lainnya.

Bupati Pesisir Barat, Dr. Agus Istiqlal, S.H. M.H. menyambut maksud baik dari Pasukan Guimo dan mendukung sepenuhnya kegiatan GUIM ke depannya. Tentu, kegiatan GUIM akan memberikan manfaat bagi masyarakat di titik/lokasi kegiatan aksi. Bapak Istiqlal berkenalan satu per satu dengan Pasukan Guimo dan menceritakan pengalaman beliau baik dari segi pendidikan maupun pekerjaan. Harapannya, Pasukan Guimo dapat menjadi mahasiswa yang baik dan tidak salah langkah dalam pergaulan sehingga dapat melaksanakan kegiatannya dengan baik. Bapak Istiqlal juga memberikan beberapa petuah untuk Pasukan Guimo. “Semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita ketahui” ujar Bupati Pesisir Barat.

 

MENDALAMI PERAN PUBLIC RELATIONS:
Sekolah Divisi Gerakan UI Mengajar Angkatan 9
Sabtu, 1 Juni 2019

Penulis: Farid Lisniawan

Editor: M Rizky Akbar

Dokumentasi: M Rizky Akbar

Dipublikasikan pada 9 Juni 2019

Divisi Public Relations (PR) atau Humas memainkan peranan penting dalam suatu organisasi atau komunitas. PR berfungsi untuk menjalin hubungan eksternal dengan berbagai lapisan masyarakat seperti khalayak ramai, media massa, hingga pemerintahan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota PR, Gerakan UI Mengajar Angkatan 9 mengadakan Sekolah Divisi Public Relations dengan menghadirkan pemateri ahli di bidangnya pada hari Sabtu, 1 Juni 2019 di Ruang BEM UI, Gedung Pusgiwa UI, Depok. Acara ini berlangsung selama empat jam dan dihadiri oleh segenap anggota divisi PR dan beberapa anggota divisi lain di Gerakan UI Mengajar.

Pemateri pertama adalah ibu Dyah Rachmawati Sugiyanto yang merupakan Ketua Ikatan Pranata Humas Indonesia periode 2018-2021. Perempuan yang akrab disapa Bu Dyah ini memaparkan materi mengenai bagaimana cara menyusun strategi komunikasi dalam menjalin hubungan dengan pemerintahan, mulai dari gubernur dan bupati hingga dinas-dinas di bawahnya. Strategi ini, menurut beliau, sangat penting untuk menghadapi urusan birokrasi dan menggali informasi di daerah setempat. Selain itu, Bu Dyah juga menjelaskan mengenai teknik lobbying, negosiasi, dan etika PR di lapangan. Bu Dyah yang juga berprofesi sebagai dosen Hubungan Masyarakat ini berpendapat bahwa mencari seorang sosok yang dapat diterima oleh setiap pihak di pemerintahan merupakan salah satu kunci keberhasilan menjalin relasi dengan pemerintah. Di akhir materinya, beliau menjelaskan bahwa untuk mencapai 100 persen kesuksesan dalam PR terdapat beberapa komponen yaitu 25% pengetahuan, 30% keterampilan, 40% sikap, dan 5% keberuntungan. “Sikap dan perilaku PR adalah yang terpenting”, pesan beliau.

Pemateri kedua dalam Sekolah Divisi ini adalah bapak Jojo Suharjo Nugroho (Om Jojo) yang menjabat sebagai Managing Director dari Imogen PR sekaligus Ketua Asosiasi Perusahaan PR Indonesia. Om Jojo memaparkan materi “Public Relation 101” mengenai cara menjalin hubungan dengan media dan wartawan serta perkembangan digital platform dalam eksekusi program humas. Materi dibuka dengan penjabaran mengenai perbedaan antara usaha pemasaran, iklan, dan hubungan masyarakat. Menurut beliau, beda antara PR dengan pemasaran serta iklan adalah usaha komunikasi yang dalam PR disampaikan oleh pihak eksternal sedangkan pemasaran dan iklan dikomunikasikan oleh pihak internal sehingga PR memiliki pengaruh (influence) lebih kuat bagi sasaran komunikasi dalam penyamaan persepsi serta nilai antara penyelenggara kegiatan dan target audiens. Berikutnya, Om Jojo menjelaskan betapa besarnya kekuatan media massa dalam membentuk opini masyarakat serta bagaimana cara agar penyelenggara kegiatan mampu menjalin hubungan dengan wartawan selaku representasi media massa untuk menyebarkan informasi dan membentuk opini publik terkait kegiatan yang diselenggarakan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun Om Jojo memaparkan bahwa dalam menjalin hubungan dengan wartawan ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Satu kesalahan kecil akan mengakibatkan pemberitaan yang tidak sesuai dengan yang diharaapkan sehingga perlu dibuat SOP yang jelas baik di internal keapnitiaan/organisasi dan dengan pihak media. Di akhir materinya, Om Jojo memaparkan betapa pentingnya PR melalui digital platform saat ini dan media apa saja yang perlu digunakan secara optimal dalam mendukung usaha PR melalui digital platform.

Setelah setiap pemateri menyelesaikan pemaparannya, terdapat sesi diskusi untuk menjawab berbagai pertanyaan dari peserta sekolah divisi dan juga untuk berbagi pengalaman pada beberapa kasus tertentu. Saat salah satu peserta menanyakan tentang skill apa saja yang perlu dimiliki oleh eksekutor PR di era modern, Om Jojo mengatakan bahwa kemampuan untuk menulis, public speaking, dan membuat konten adalah tiga kemampuan utama untuk dapat menjadi pekerja PR yang sukses. Sedangkan, Bu Dyah menyatakan bahwa seorang pekerja PR tidak boleh sakit. “Seorang PR ga boleh sakit, harus punya dua nyawa”, ujar Bu Dyah sembari menekankan kembali pentingnya peran seorang PR. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan plakat dan bingkisan kepada masing-masing pembicara oleh project officer Gerakan UI Mengajar Angkatan  dan sesi foto bersama.

×
×

Cart